Oleh: Tanti Nur Dwiyanti

Bingkai Karya – Budaya mendengar atau mendengarkan adalah kebiasaan dan sikap aktif untuk mendengarkan secara penuh perhatian, bukan hanya sekedar menangkap suara dengan indera pendengaran. Hal ini termasuk soal keterampilan berkomunikasi yang menjadi bagian dari upaya memahami makna di balik kata-kata, sehingga bisa menumbuhkan empati, simpati dan membangun hubungan baik dengan partner komunikasi. Jaman sekarang ini, banyak orang cenderung ingin banyak bicara (istilah gen Alpha : Yapping) dan kurang ingin mendengarkan. Orang menganggap menjadi pembicara lebih berharga dari pada menjadi pendengar. Padahal jelas untuk bisa pandai berbicara di hadapan pendengar, perlu memahami terlebih dahulu bagaimana menjadi pendengar yang baik. Pembicara dituntut bisa berempati kepada pendengar. Komunikasi secara lisan hanya bisa berlangsung dengan efektif bila kedua pihak, yang berbicara dan yang mendengarkan, melakukannya sepenuh hati, tak hanya bergantung pada keterampilan pembicara.
Kemauan dan kemampuan mendengarkan ungkapan kata-kata secara lisan dalam kehidupan bisa dijumpai dalam komunikasi antarpribadi dalam hubungan pertemanan/persahabatan, dalam hubungan persaudaraan, dalam hubungan orang tua-anak, dalam hubungan suami-istri dan lainnya. Dalam komunikasi kelompok di forum pengajaran kelas sekolah/kuliah, rapat kerja, dalam forum pengajian, dalam momen khotbah Jum’at, dan lainnya bahkan dalam forum online seperti webinar dengan zoom, Gmeet, Live di social media dan lainnya. Para peserta dituntut kemauan dan perhatian dalam mendengarkan pembicaraan. Kerap kali kita jumpai peserta kuliah atau peserta rapat, juga jama’ah pengajianan, tidak sedikit yang kurang fokus dan kurang atensi dalam mendengarkan penjelasan atau penuturan. Dalam komunikasi massa yang menggunakan media radio, televisi atau Youtube, audiens juga dituntut menangkap dan memahami pesan komunikasinya, dengan kemauan dan kemampuan mendengarkan juga. Sebagian dari kita terkadang lupa atau tak sadar bahwa sekian persen pesan komunikasinya perlu bagi kita tapi kita membuang sebagian waktu keterlibatan kita sebagai pendengar dengan melewatkan pesan-pesan penting.
Mendengar dalam Komunikasi Antarpribadi
Dalam komunikasi antarpribadi, yang pada umumnya melibatkan dua orang, komunikasi berlangsung cenderung dua arah (walaupun tidak selalu seimbang), masing-masing pihak dituntut bisa menjadi pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik itu juga tidak mudah. Ada tipe orang yang susah berposisi sebagai pendengar. Terlebih lagi dalam hubungan persahabat, seorang sahabat yang baik dituntut mampu menjadi pendengar yang baik, ketika sahabatnya butuh mencurahkan isi hatinya (curhat), biasanya akan mencari sahabatnya. Begitu pun seorang dosen dalam menghadapi mahasiswanya yang bermasalah, terkadang mahasiswa butuh curhat ke dosennya berkait masalah studinya. Sebagai pendengar, dalam momen mendengarkan terkadang muncul keinginan untuk menyela pengutaraan mahasiswa yang sedang bercerita tentang permasalahannya. Hal ini bisa mengganggu irama curhat. Maka sang dosen juga dituntut mau dan mampu menjadi pendengar yang baik. Demikian halnya seorang anak, terkadang memerlukan curhat ke ibunya berkait masalah sekolah atau masalah pergaulan dengan teman mainnya. Sesibuk apa pun, sang ibu dituntut mampu mencari atau menyediakan waktu untuk mendengarkan curhatan anak kesayangannya, dengan sabar dan empati.
Kemauan dan kemampuan mendengarkan penuturan atau ungkapan rasa dengan empati partner komunikasi dalam komunikasi antarpribadi sangat berpengaruh terhadap hubungan antarpribadi di antara mereka. Seorang laki-laki secara aktif dan penuh perhatian menjadi pendengar di kala pacarnya sedang bercerita atau bertanya, bisa turut mempererat hubungan keduanya. Sebaliknya jika ia mendengarkan hanya setengah hati, bisa membuat pacarnya tidak puas dengan komunikasi mereka dan bisa memperburuk hubungan. Demikian halnya komunikasi dalam hubungan persahabatan, kedua pihak dituntut bersedia menjadi pendengar yang baik ketika tiba saatnya suatu pihak dituntut menjadi pendengar, mendengarkan penuturan sang sahabat secara empati.
Mendengarkan dalam Komunikasi Kelompok
Momen komunikasi kelompok bisa berlangsung dalam kelompok kecil (melibatkan 5 sampai 10 orang), kelompok sedang (belasan sampai puluhan orang) atau kelompok besar (melibatkan ratusan orang). Jenis kelompok bisa berupa kelompok kerja, kelompok belajar, keluarga (keluarga inti atau keluarga besar), kelompok pengajian dan lainnya; dan forumnya bisa berupa rapat, kelas kuliah, pengajian dan lainnya, utamanya yang berlangsung secara tatap muka. Dalam momen komunikasinya ada pembahasan, ada yang berbicara ada yang mendengarkan. Dalam pertemuan keluarga besar, di momen lebaran, arisan misalnya, ada saat di mana seseorang mengutarakan sesuatu sementara yang lainnya berposisi sebagai pendengar. Dari sekian pendengar, biasanya hanya sedikit yang berkemauan dan tulus ikhlas mendengarkan materi penyampaian pembicara. Ini budaya mendengarkan yang berkategori kurang baik. Demikian halnya di dalam rapat kerja yang pesertanya agak banyak (di atas 40 peserta misalnya), tidak banyak pendengar yang serius dan penuh empati menyimak, walaupun pembicara serius menyampaikan materi pembicaraan. Lagi-lagi ini juga contoh budaya mendengarkan yang kurang baik. Bahkan dalam kelas kuliah, budaya mendengarkan di kalangan mahasiswa juga begitu rupa di mana tidak sedikit peserta kuliah yang sejatinya kurang serius menyimak penyampaian materi yang secara lisan disampaikan pengajar, meskipun terdapat juga yang sangat serius penuh atensi berusaha memahami materi kuliah yang dijelaskan secara lisan.
Pendengar dalam Komunikasi Massa
Posisi pendengar dalam komunikasi massa, biasa disebut sebagai audiens. Audiens medium radio, dalam bahasa Indonesia biasa disebut pendengar; audiens televisi disebut pemirsa, audiens film, juga Youtube, disebut penonton. Pemirsa televisi maupun penonton film dalan menjalankan keterlibatannya dalam komunikasi massa menggunakan indera pendengaran juga untuk menangkap pesan komunikasinya. Dalam masyarakat kita “budaya menonton” lebih kuat dibanding “budaya mendengar” (terlebih lagi dibanding “budaya membaca”). Masyarakat kebanyakan, lebih suka “menonton” dari pada “mendengarkan”. Maka dalam berhadapan dengan Audio Visual, yang penangkapan pesan komunikasinya menuntut penyertaan indera penglihatan dan indera pendengaran, maka audiens dituntut fokus ke kedua dimensi pesan (terlihat dan terdengar) tersebut.
Nama : Tanti Nur Dwiyanti
Mahasiswa : Program Pasca Sarjana Stikom Interstudy
Nim : 2025200038